Masjid Baiturrahman Aceh: Mengenang Kisah Bertahan Dari Amukan Tsunami 2004

By Leo Galuh | 09, Feb, 2021
Masjid Baiturrahman Aceh: Mengenang Kisah Bertahan Dari Amukan Tsunami 2004

Indonesia merupakan wilayah yang bisa dikatakan aktif gempa. Hal ini disebabkan oleh sumber gempa yang begitu banyak, yakni 13 segmen megathrust dan lebih dari 295 segmen sesar aktif.

Tidak hanya itu, Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Oleh karena itu negara terbesar di Asia Tenggara ini memiliki tingkat kerawanan gempa dengan kekuatan rendah maupun tinggi.

Rata-rata kegempaan di Indonesia dalam satu tahun mencapai 6.000 kali, dan sepanjang tahun 2020 ini, gempa terjadi sebanyak 8.264 kali dan tersebar di beberapa  wilayah yang sangat aktif gempa yaitu wilayah Barat Aceh, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Maluku Utara dan pulau seram.

Beberapa gempa yang terjadi di indonesia kemudian diikuti oleh Tsunami, seperti yang terjadi di aceh.

Tsunami Aceh didahului gempa yang terjadi pada pukul 07.59 WIB. Tidak lama setelah itu, muncul gelombang tsunami yang diperkirakan memiliki ketinggian 30 meter, dengan kecepatan mencapai 100 meter per detik, atau 360 kilometer per jam.

Gelombang yang sangat besar itu kemudian menenggelamkan rumah-rumah warga, menghanyutkan ternak, hingga orang-orang yang berada disekitar pantai sejauh lebih dari lima kilometer.

 

TSUNAMI ACEH TRAGEDI NASIONAL

Foto oleh Arto Marttinen di Unsplash

Tsunami Aceh terjadi tepat pada 16 tahun yang silam. Tragedi nasional yang tidak pernah dapat terlupakan, Tsunami yang merupakan bencana alam terbesar itu terjadi pada 26 Desember 2004.

Gelombang tsunami menyapu pesisir Aceh pasca gempa dangkal berkekuatan 9,3 skala richter yang terjadi di dasar Samudera Hindia. Gempa yang terjadi, bahkan disebut ahli sebagai gempa terbesar ke-5 yang pernah ada dalam sejarah.

Minggu cerah itu seketika berubah menjadi hari yang kelam. Kebahagiaan akhir pekan sontak menjadi kesedihan yang mendalam. Indonesia pun berduka.

Bencana tsunami yang menghantam begitu keras itu juga memutus semua jaringan listrik dan komunikasi, sehingga keadaan darurat menjadi semakin terasa.

Sehari setelah kejadian, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bencana alam tsunami Aceh ini sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi. Sejak saat itu, bantuan internasional pun berdatangan untuk menolong masyarakat yang terkena bencana tsunami Aceh.

Ratusan orang ditemukan telah meninggal dunia, bahkan beberapa kerabat banyak yang merasa kehilangan sanak saudaranya akibat tersapu gelombang hingga tertimpa reruntuhan bangunan,

Penderitaan  masyarakat semakin lengkap setelah mereka yang masih selamat kehilangan tempat tinggal,  jumlahnya bukan hanya ratusan, tapi ratusan ribu, mereka harus hidup di lokasi pengungsian.

Jumlah korban dari peristiwa alam tsunami Aceh disebut mencapai 230.000 jiwa. Jumlah itu terdiri dari seluruh negara-negara yang terdampak tsunami, seperti kawasan Teluk Bengali, mulai dari India, Sri Lanka, hingga Thailand.

 

PEMULIHAN KONDISI ACEH

Begitu banyaknya bantuan dan perhatian kepada Aceh, baik dari dalam maupun luar negeri. Aceh perlahan kembali berbenah. Tidak hanya secara infrastruktur maupun bangunan, namun masyarakat Aceh mulai membangun perekonomian serta psikologisnya.

Pada tahun 2009 didirikan sebuah museum untuk mengenang kejadian yang tidak pernah lekang dalam ingatan itu. Museum Tsunami Aceh terletak di Kota Banda Aceh. Arsitek dari museum tersebut adalah Ridwan Kamil yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

Foto oleh julianto saputra di Unsplash

Di dalam museum tsunami Aceh terdapat beragam miniatur tiga dimensi yang menggambarkan suasana serta pemandangan saat peristiwa pilu itu terjadi. Museum tsunami juga memiliki daftar nama orang-orang yang menjadi korban.

Museum pun semakin berkembang menjadi pusat pembelajaran dan pendidikan kebencanaan bagi masyarakat Aceh, agar kedepannya dapat lebih mengantisipasi serta melakukan tindakan apabila bencana alam kembali terjadi, namun harapannya tentu tidak ada lagi tsunami di negeri Serambi Mekah ini.

 

MASJID RAHMATULLAH BERDIRI KOKOH SAAT TSUNAMI

Masjid Baiturrahman, Aceh

Foto oleh Rizki Oceano di Unsplash

Lhoknga merupakan wilayah dekat Banda Aceh yang paling terdampak akibat terjangan air bah tsunami. Kota ini secara keseluruhan nyaris rata dengan tanah. Tsunami menyapu apa saja yang ada di depannya; rumah-rumah, sekolah, balai desa, pohon-pohon, dan tentu saja orang-orang yang tak berdaya. Namun keajaiban terjadi, sebuah bangunan masjid berdiri tegak di tengah kehancuran. Sebagian besar orang yakin, kuasa sang Pencipta menyelamatkan Masjid Rahmatullah tersebut. 

Masjid ini menjadi saksi bagaimana kedahsyatan hempasan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 2004 silam. Saat tsunami terjadi, masjid yang hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai ini menjadi satu-satunya bangunan yang tersisa. Meskipun beberapa sisi bangunan masjid rusak, sebagian besar tetap utuh dan selamat.

Setelah sekitar 16 tahun usai peristiwa itu, masjid yang dapat menampung sekitar 4000 jemaah ini masih berdiri kokoh. Hal ini tak lepas dari bantuan pemerintah Turki melalui Bulan Sabit Merah, Turki yang merenovasi masjid pada 2006.

Tiang masjid yang hancur akibat tsunami dibangun kembali. Tidak hanya itu bangunan masjid juga dipercantik dengan dua menara berwarna putih yang berdiri kuat di sisi kiri dan kanan masjid.

Terlihat logo bulan sabit khas Turki terpampang di bangunan depan masjid. Turki juga membangun 700 rumah di sekeliling masjid bagi para korban. Semuanya gratis tanpa dipungut biaya. Untuk itu, desa di Kecamatan Lhoknga ini dijuluki sebagai “Kampung Turki.”

Foto oleh Misqal Novio Reeza di Unsplash

Pasca tsunami, Masjid Rahmatullah banyak didatangi pengunjung, Kini masjid Rahmatullah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga lokasi wisata. Setiap harinya tidak kurang sekitar 200 orang mengunjungi masjid dan galeri tsunami.

Pengurus masjid secara khusus membuat galeri tsunami yang menunjukkan kondisi masjid dan wilayah sekitarnya usai dihantam tsunami. Beragam foto dan kliping koran dipajang untuk mengembalikan ingatan wisatawan mengenai dahsyatnya tsunami.

Mereka datang tidak hanya dari Indonesia tapi juga mancanegara seperti Malaysia, Australia, Turki, negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Wisatawan biasanya datang untuk melihat masjid dan mencari tahu mengenai sejarah tsunami yang menghempas Aceh.

Para wisatawan lalu mendapatkan penjelasan mengenai kejadian tsunami pada 2004 lalu dan mempelajari perihal gelombang tsunami yang telah menghancurkan Aceh.

Pengurus masjid juga masih mempertahankan bentuk asli sebagian belakang bangunan masjid untuk mengenang terjadinya tsunami.

Dua tiang besar yang rubuh akibat tsunami juga dibiarkan tergeletak. Selain melestarikan dinding roboh, jendela terlepas, serta karpet dan sajadah yang juga sempat terhempas tsunami.

Sisa bongkahan batu karang dan batu-batu koral yang berserakan di atas pasir juga ikut dipajang.Di bawah tiang yang rusak, sebuah papan bertulis “JANGAN LUPAKAN TSUNAMI” berdiri tegak.

 

MASJID RAYA BAITURRAHMAN SAKSI BISU TSUNAMI

Foto oleh Rencong Photography di Unsplash

Di tengah porak porandanya Aceh setelah diterpa gempa dan tsunami, ada satu hal lagi yang begitu menarik perhatian yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Masjid tersebut masih berdiri tegak sementara bangunan di sekitarnya rata dengan tanah akibat bencana itu.

Masjid Baiturrahman yang merupakan ikon Kota Banda Aceh menjadi saksi bisu keganasan gelombang tsunami menggulung bumi Serambi Mekkah. Ketika gelombang tsunami mengepung, seluruh warga berlarian panik. Kala itu, mereka yang berada di pusat kota berlari masuk ke dalam masjid. Setiba di sana, sebagian dari mereka naik ke atas jendela atau kubah masjid.

Bagi masyarakat yang berlindung di dalam Masjid Raya Baiturrahman seperti mendapatkan sebuah mukzizat dari Allah, tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia. Gelombang tsunami yang begitu dahsyat tak kuasa menyentuh masjid. Warga selamat dari terjangan gelombang air laut karena berlindung di dalam masjid tersebut.

 

KEMEGAHAN MASJID BAITURRAHMAN

Foto oleh Misqal Novio Reeza di Unsplash

Masjid Raya Baiturrahman terletak di jantung kota Banda Aceh dan merupakan ikon Provinsi Aceh. Masjid ini merupakan salah satu pusat pembelajaran Islam tempo dulu. Masjid yang dibangun pada masa Kesultanan Iskandar Muda tahun 1022 Hijriah/1612 Masehi mempunyai sejarah panjang pada masa lalu.

Pasca terjadinya tsunami, masjid  Baiturrahman dibangun layaknya Masjid Nabawi di Madinah, diresmikan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, 13 Maret 2017. Masjid ini dilengkapi dengan payung raksasa yang bisa membuka tutup.

Bila dilihat dari bagian depan masjid,  terdapat lima kubah berwarna hitam membuat masjid terlihat begitu indah.  Saat siang hari, kita tidak tidak akan merasakan terik panasnya matahari, karena terlindung oleh 12 payung raksasa yang tebuka lebar. Lantai marmer berwarna putih juga menambah pelataran masjid menjadi lebih menawan dan terasa begitu sejuk.

Untuk interior masjid masih dihiasi dengan marmer. Dinding, tangga dan lantai tak luput dari sentuhan marmer asal Tiongkok.

Jendela kaca yang terlihat maksimal membuat masjid semakin anggun, di bagian atas dihiasi pintu kayu berdekorasi, lampu hias gantung, serta batu-batu bangunan yang berasal dari Belanda.

Foto dari Islamic Art DB

Luas ruangan dalam masjid mencapai 4.760 meter persegi, keseluruhan lantai ruang utama masjid dilapisi marmer buatan Italia.

Untuk kapasitas pengunjung, masjid baiturrahman mampu menampung sekitar 10.000 jamaah di dalam. Namun jika jemaah memenuhi hingga halaman masjid, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 30.000 jamaah.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Baiturahman juga menjadi tempat wisata bagi warga Aceh dan daerah-daerah lain di sekitarnya. Terlebih di sore hari, suasana masjid akan terlihat sangat ramai. Sebagian besar masyarakat memang sengaja datang untuk beribadah atau hanya ingin berwisata melihat saksi bisu masjid yang pernah tergulung ombak tsunami ini.

Tidak hanya orang tua, baik remaja dan anak-anak,kerap terlihat berlalu-lalang atau sekedar duduk-duduk di pelataran masjid. Sesekali mereka berswafoto sendiri maupun bersama-sama keluarga.

Dengan lantai yang terasa dingin dan sejuk, menjadikan pelataran Masjid Baiturahman sebagai tempat yang nikmat untuk sekadar duduk-duduk ataupun berjalan-jalan. Pengunjung bisa sambil menikmati santai bersama keluarga di samping kolam masjid.

Foto dari julianto saputra di Unsplash

Bangunan Masjid Baiturrahman yang bergaya kuno ala negara India masih tetap dipertahankan dan semakin terlihat indah dengan di padu padankan dengan sedikit gaya modern.

Untuk anda yang datang ke Masjid Baiturrahman menggunakan kendaraan roda empat tidak perlu risau memarkirkan kendaraan, sebab masjid raya Baiturrahman punya fasilitas parkir bawah tanah yang tak kalah rapi dan modern seperti yang ada di mall maupun hotel bintang lima. Kapasitasnya pun cukup luas, parkir basement masjid mampu menampung puluhan mobil pengunjung.

Masjid Baiturrahman kini telah bersolek, selain menjadi tempat ibadah yang nyaman. Rumah ibadah ini juga menjadi tempat wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Namun tentunya tidak boleh mengabaikan kegunaan utama masjid sebagai tempat ibadah.

Alamat: Jalan Moh Jam No. 1, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Indonesia.

Freelance journalist. Currently aggregating economic news for analytical news service dedicated to competition law and regulatory developments around the world. Former reporter of tvOne (Indonesian television news channel) and NHK (Japan Broadcasting Corporation).

Leave a comment